Nah, jika anda memiliki rencana untuk berlibur ke Bali, sempatkanlah untuk mengunjungi objek wisata yang satu ini yaitu Wisata Desa Trunyan yang juga terkenal sebagai salah satu Wisata Menarik di Bali. Yang paling menyorot atau terkenal dalam Desa Trunyan ini adalah kebudayaan dan masyarakatnya yang bisa dikatakan masih sangat 'tradisional' ada beberapa keunikan yang akan anda temui disini. Berikut lebih lengkapnya.
Trunyan adalah sebuah desa yang terletak di pinggiran danau Batur dengan
ketinggian 1.036 meter di atas permukaan laut. Desa Trunyan merupakan
bagian dari kawasan wisata Kintamani yang termasuk wilayah kecamatan
Kintamani, kabupaten Bangli berjarak kurang lebih 4 km dari Penelokan
atau berjarak sekitar 72 km kearah timur laut dari ibukota Denpasar.
Untuk menuju desa tersebut bisa menggunakan perahu / boat dan bisa juga
melintasi sarana jalan yang belum memadai di sepanjang pesisir tepi
danau Batur.
Desa Trunyan merupakan salah satu dari desa Bali Aga atau
Bali Mula yaitu desa yang memiliki suatu tradisi yang sangat spesifik
dan berbeda dengan yang lain dari tradisi desa-desa di Bali dataran.
Desa-desa Bali Aga atau Bali Mula yang lainnya antara lain desa
Sembiran, desa Cempaga, desa Sidetapa, desa Pedawa, desa Tigawasa yang
berada di kabupaten Buleleng, desa Sukawana di kabupaten Bangli, dan
desa Tenganan yang berada di kabupaten Karangasem.
Salah satu tradisi desa adat Trunyan yang masih dijaga hingga kini
adalah tradisi upacara kematian yang tidak ada bandingannya dengan
daerah lain di dunia. Sebagaimana masyarakat Bali umumnya, Warga Desa
Trunyan juga mengenal ngaben, namun di di desa ini mayatnya tidak
dibakar. Di sini mayat mereka taruh begitu saja di sebuah areal hutan.
Anehnya, mayat itu tak akan mengeluarkan bau busuk walaupun sudah disana
selama berbulan-bulan.
Home » Posts filed under Wisata Desa di Bali
Tampilkan postingan dengan label Wisata Desa di Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Desa di Bali. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Januari 2013
Sabtu, 19 Januari 2013
Wisata Tenganan Karangasem Bali
3VGBHS2W8T7D
Tenganan adalah sebuah desa tradisional di pulau Bali. Desa ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem di sebelah timur pulau Bali. Tenganan bisa dicapai dari tempat pariwisata Candi Dasa dan letak kira-kira 10 kilometer dari sana.
Desa Tenganan merupakan salah satu desa dari tiga desa Bali Aga, selain Trunyan dan Sembiran. Yang dimaksud dengan Bali Aga adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunan serta pekarangan, pengaturan letak bangunan, hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun-temurun dipertahankan.
Penduduk desa Tenganan memiliki tradisi yang sangat unik. Setiap tahun pada pertengahan bulan Juli digelar tradisi mageret pandan (perang pandan). Yaitu ritual sepasang pemuda desa saling sayat menggunakan duri – duri dari daun pandan di atas panggung mereka. Akibat sayatan duri – duri daun pandan tersebut, akan menimbulkan luka di punggung pemuda – pemuda desa.
Setelah selesai perang pandan luka itu akan diobati dengan obat tradisional antiseptik dari bahan umbi – umbian. Saat diolesi obat, punggung para pemuda akan terasa sangat perih. Luka tersebut akan mengering dan sembuh dalam beberapa hari. Tradisi ini dilakukan untuk melatih mental dan fisik warga desa Tenganan.
Masyarakat desa Tenganan Bali ini sangat memegang teguh konsep Tri Hita Karana dan mengimplementasikanya dalam kehidupan sehari-hari. Tri Hita Karana merupakan sebuah konsep yang terdiri dari Perahyangan atau hubungan antara tuhan dan manusia, pawongan atau hubungan antar manusia dan Palemahan atau hubungan manusia dengan alam sekitar.
Tenganan adalah sebuah desa tradisional di pulau Bali. Desa ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem di sebelah timur pulau Bali. Tenganan bisa dicapai dari tempat pariwisata Candi Dasa dan letak kira-kira 10 kilometer dari sana.
Desa Tenganan merupakan salah satu desa dari tiga desa Bali Aga, selain Trunyan dan Sembiran. Yang dimaksud dengan Bali Aga adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunan serta pekarangan, pengaturan letak bangunan, hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun-temurun dipertahankan.
Penduduk desa Tenganan memiliki tradisi yang sangat unik. Setiap tahun pada pertengahan bulan Juli digelar tradisi mageret pandan (perang pandan). Yaitu ritual sepasang pemuda desa saling sayat menggunakan duri – duri dari daun pandan di atas panggung mereka. Akibat sayatan duri – duri daun pandan tersebut, akan menimbulkan luka di punggung pemuda – pemuda desa.
Setelah selesai perang pandan luka itu akan diobati dengan obat tradisional antiseptik dari bahan umbi – umbian. Saat diolesi obat, punggung para pemuda akan terasa sangat perih. Luka tersebut akan mengering dan sembuh dalam beberapa hari. Tradisi ini dilakukan untuk melatih mental dan fisik warga desa Tenganan.
Masyarakat desa Tenganan Bali ini sangat memegang teguh konsep Tri Hita Karana dan mengimplementasikanya dalam kehidupan sehari-hari. Tri Hita Karana merupakan sebuah konsep yang terdiri dari Perahyangan atau hubungan antara tuhan dan manusia, pawongan atau hubungan antar manusia dan Palemahan atau hubungan manusia dengan alam sekitar.
Langganan:
Komentar (Atom)

